Penyebab Infertilitas (Kemandulan) Pada Pria dan Wanita
Penyebab Infertilitas (Kemandulan) Pada Pria dan Wanita


Sehat Selalu - Sebagaimana diketahui seorang wanita/istri sering dianggap tidak subur jika pasangan tersebut belum memiliki anak selama minimal 1 tahun pernikahan. Padahal infertilitas/kemandulan juga terjadi pada pria/suami.


Sekitar 60-70% pasangan suami istri yang baru menikah dikaruniai anak pada tahun pertama. 20% memiliki momongan pada tahun kedua usia pernikahan. Dan 10% sisanya baru memiliki anak atau tidak memiliki anak sama sekali pada tahun ketiga bahkan lebih dari usia pernikahan mereka.


Sebelum membahas artikel kehamilan tentang infertilitas lebih jauh, ada baiknya kita mulai dengan pengertian infertilitas terlebih dahulu. Apa itu infertilitas? Secara singkat infertilitas berarti ketidaksuburan atau kemandulan, baik terjadi pada pria maupun wanita.


Definisi lain dari infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil (memiliki anak) setelah berhubungan suami-istri selama 1 tahun tanpa menggunakan jenis kontrasepsi/kb hormonal, alat kontrasepsi, obat-obatan, maupun segala hal yang dapat mencegah kehamilan.


Dari sudut pandang medis ada dua jenis infertilitas:, yaitu:


1. Infertilitas primer


Adalah ketidakmampuan dalam memiliki anak setelah berhubungan suami-istri secara rutin 2-3 kali setiap minggunya selama 1 tahun dan tidak menggunakan jenis kontrasepsi apa pun, obat-obatan, maupun segala hal yang dapat menghindari kehamilan.


2.  Infertilitas sekunder


Adalah pasangan suami-istri pernah memiliki anak sebelumnya, namun setelah itu hingga kini tidak mampu untuk memiliki anak lagi, meskipun rutin berhubungan sekitar 2-3 kali per minggu selama 1 tahun tanpa menggunakan jenis kontrasepsi apa pun.


Perlu diketahui, kasus infertil bukan sepenuhnya disebabkan dari pihak wanita/istri saja. Bahkan ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa infertilitas pada pria/suami sekitar 40%. Sedangkan wanita/istri kemungkinan mengalami infertilitas sekitar 50%. Sementara yang 10% disebabkan karena faktor infertil dari kedua belah pihak.


Penelitian tersebut bisa menghapus anggapan yang beredar selama ini di masyarakat bahwa masalah kemandulan disebabkan sepenuhnya oleh ketidaksuburan wanita/istri saja. Padahal, pria/suami juga ikut andil dalam penyumbangan infertil.


Oleh karena itu, jika ada pasangan suami-istri yang telah menikah lebih dari 1 tahun dan belum juga dikaruniai anak, sebaiknya kedua belah pihak (suami dan istri) sama-sama memeriksakan diri ke dokter.


Ketidakmampuan dalam memiliki anak (infertilitas pada pria maupun wanita) bisa disebabkan karena beberapa faktor, antara lain:


 1.  Infertilitas pada pria


Ada beberapa ketidaknormalan pada pria maupun faktor gangguan yang memicu terjadinya infertilitas pada pria, yaitu:


  • Abnormalitas cairan laki-laki, seperti: motilitas dan morfologi,
  • Abnormalitas tegangan lelaki,
  • Abnormalitas saat cairan keluar, seperti: hipospadia, dan retrograde,
  • Abnormalitas cairan semmen, seperti: perubahan komposisi kimiawi dan perubahan pH,
  • Adanya infeksi pada saluran alat laki-laki yang meninggalkan jaringan parut, sehingga pada saluran tersebut terjadi penyempitan,
  • Faktor lingkungan, seperti: penggunaan obat-obatan anti kanker, radiasi, olahraga yang berlebihan, dan lain sebagainya.

    

2. Infertilitas pada wanita


Infertilitas/kemandulan pada wanita disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain:


1. Gangguan organ reproduksi


a. Infeksi alat wanita;


Hal ini menyebabkan tingkat keasaman alat wanita menjadi tinggi sehingga dapat membunuh sel cairan lelaki. Dan menyebabkan terjadinya pengerutan alat reproduksi wanita, sehingga perjalanan sel cairan lelaki melalui alat reproduksi wanita menjadi terhambat.


b. Kelainan pada serviks yang disebabkan oleh penurunan/defisiensi hormon estrogen dan riwayat operasi serviks;


Penurunan jumlah hormon estrogen bisa menyebabkan pengeluaran mukus serviks menjadi berkurang. Jika jumlah mukus di serviks sedikit, maka akan mengganggu perjalanan sel cairan laki-laki ke rahim. Sedangkan riwayat operasi serviks sering kali meninggalkan bekas jaringan parut yang juga dapat menghambat perjalanan sel cairan laki-laki menuju ke rahim.


c. Kelainan tuba fallopi;


Kondisi di mana terjadi infeksi tuba fallopi yang menyebabkan terjadinya obstruksi dan adhesi tuba fallopi, sehingga sel cairan laki-laki dan sel telur tidak bisa bertemu.


d. Kelainan pada uterus;


Seperti: pertumbuhan fetus terganggu akibat adanya malformasi uterus. Dan adhesi uterus serta mioma uteri yang menyebabkan terganggunya suplai darah yang digunakan untuk pertumbuhan fetus. Akibatnya, kondisi tersebut akan menyebabkan terjadinya abortus yang berulang.


2. Gangguan ovulasi


Kondisi ini disebabkan karena adanya ketidakseimbangan hormon, seperti terjadi hambatan pada sekresi hormon LH dan FSH , yang mana kedua hormon tersebut berperan penting dalam proses ovulasi. Gangguan ini sering disebabkan oleh penggunaan obat stres dan adanya tumor tengkorak akibat disfungsi hipofisis dan hipotalamus.. Jika kedua hormon tersebut mengalami gangguan sekresi, maka pematangan folikel akan terganggu, sehingga menyebabkan terjadinya gangguan ovulasi.


3. Kegagalan implantasi


Jika seorang wanita memiliki kadar hormon progesteron yang rendah kesiapan endometrium untuk pembuahan akan gagal. Sehingga menyebabkan fetus tidak bisa berkembang dengan baik dan terjadilah kegagalan implantasi/abortus.


4. Endometriosis


5. Faktor immunologis


Jika embrio di dalam kandungan mempunyai antigen yang tidak sama dari sang ibu, maka tubuh sang ibu akan merespon embrio tersebut sebagai benda asing. Sehingga hal ini bisa mengakibatkan terjadinya abortus spontan pada ibu hamil muda.


6. Lingkungan


Tidak hanya faktor gangguan fisik saja yang dapat memicu terjadinya infertilitas/kemandulan pada wanita. Namun, faktor lingkungan juga ikut berpengaruh, seperti: paparan radiasi dosis tinggi, gas ananstesi, asap rokok, pestisida, dan zat kimia yang bisa mengakibatkan timbulnya toxic pada bagian tubuh wanita hingga organ reproduksi, sehingga dapat mengganggu kesuburan wanita tersebut.


Cara mengatasi infertilitas/kemandulan pada pria dan wanita


1. Pengobatan infertilitas pada pria


Penanganan infertilitas pada pria dengan cara melakukan pemeriksaan ke dokter spesialis atau penyedia layanan kesehatan. Untuk mendiagnosa awal, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh hingga ke organ laki-laki, dari segi kesehatannya, apakah ada riwayat cedera, penyakit kronis, maupun faktor lainnya.


Dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan dengan cara menganalisa cairan semen di laboratorium guna memastikan apakah terdapat abnormalitas cairan laki-laki (seperti: motilitas dan morfologi), menghitung berapa banyak jumlah cairan, dan untuk mengetahui apakah terdapat tanda-tanda infeksi maupun tidak.


Dalam pemeriksaan ini, tes darah diperlukan untuk pemeriksaan hormonal. Pria tersebut juga bisa melakukan USG untuk mendeteksi apakah terdapat gangguan pada skrotum atau tidak. Dan juga untuk mengetahui kemungkinan adanya varikokel maupun gangguan lainnya pada testikel.


Sementara pada kasus ejakulasi retrograde , biasanya dokter akan mendiagnosis pasien (pria tersebut) dengan cara memeriksa urin pasien setelah mengeluarkan cairan laki-laki, guna mengetahui apakah terdapat sel cairan laki-laki atau tidak. Namun, jika hingga pemeriksaan tersebut belum mendapatkan jawaban tentang apa sebenarnya penyebab infertilitas, maka tes akan dilanjutkan dengan pemeriksaan genetik, terlebih jika pasien tersebut memiliki jumlah sel cairan laki-laki yang sangat sedikit.


Setelah diketahui penyebab infertilitas pada pria tersebut, dokter biasanya akan menawarkan terapi infertilitas. Dan tentu saja mekanisme kerja terapi ini disesuaikan dengan penyebabnya.


 

Berikut beberapa terapi infertilitas pada pria:


1. Pembedahan/operasi


Untuk pembedahan/operasi biasanya dilakukan pada masalah infertilitas yang disebabkan oleh penyumbatan van deferens atau pada kasus varikokel.


2. Teknik khusus pemindahan sel cairan laki-laki


Sedangkan pada kasus di mana saat keluarnya cairan laki-laki tidak terdapatnya sel cairan laki-laki yang disebabkan karena sumbatan, maka akan dilakukan teknik khusus untuk memindahkan sel cairan laki-laki dari testikel ke epididimis.


3. Pengobatan infeksi


Adapun untuk penyebab infertilitas yang disebabkan oleh infeksi, maka infeksi tersebut harus disembuhkan terlebih dahulu, meskipun terkadang penyembuhan infeksi tersebut tidak bisa mengembalikan kesuburan pria seperti sedia kala.


4. Penggunaan obat-obatan tertentu/konseling


Tidak sedikit pria/suami yang mengalami infertil/mandul disebabkan karena gangguan hubungan suami-istri. Maka dari itu, pada kasus gangguan seperti ini bisa ditangani dengan jenis obat-obatan tertentu maupun konseling.


 5. Terapi hormon pengganti


Dan pada kasus gangguan hormon, bisa diatasi dengan cara melakukan terapi hormon pengganti.


6. Teknik reproduksi berbantu


Teknik reproduksi berbantu ini merupakan alternatif terakhir untuk mendapatkan kehamilan secara alamiah, jika semua jenis terapi infertilitas di atas tidak memungkinkan untuk dilakukan.


 

2. Pengobatan infertilitas pada wanita


Penanganan infertilitas pada wanita bisa diobati dengan cara terapi. Ada beberapa macam terapi yang bisa dilakukan. Dan tidak sedikit wanita infertil yang harus melakukan terapi lebih dari satu macam sebagai usaha untuk mengembalikan kesuburannya.


Berikut beberapa jenis terapi infertilitas pada wanita:


1. Obat pendorong ovulasi


Ada beberapa jenis obat yang digunakan untuk menginduksi maupun mengatur ovulasi yang berguna untuk mengembalikan dan meningkatkan kesuburan seorang wanita. Jenis obat-obatan yang dapat mendorong ovarium wanita yang mengalami infertilitas antara lain: Tamoxifen, Clomifen, dan Metformin.


2. Inseminasi intrauterine


Yaitu salah satu terapi infertilitas pada wanita dengan cara konsentrasi dan pengumpulan sel cairan laki-laki sehat lalu ditempatkan secara langsung ke dalam rahim wanita tersebut. Biasanya, terapi infertilitas jenis ini dilakukan selama masa ovulasi. Sehingga pelaksanaan terapi ini tergantung pada masa menstruasi yang normal, atau bisa juga dengan bantuan obat kesuburan. Ini diperlukan pada saat wanita tersebut mengalami kondisi:


  • Memiliki endometriosis ringan.
  • Memiliki kesuburan yang tidak dapat dijelaskan.
  • Pasangan pria/suami mempunyai masalah dalam hal motilitas cairan laki-kaki atau mempunyai jumlah sel cairan laki-laki yang sedikit.
  • Pasangan pria/suami mengalami keluarnya cairan terlalu dini maupun lemahnya alat laki-laki.


3. Operasi atau pembedahan


Operasi atau pembedahan dilakukan pada saat wanita mengalami infertilitas yang disebabkan karena endometriosis, terjadi penyumbatan maupun luka pada tuba fallopi, dan PCOS.


4. Assisted Reproductive Technology


Assisted Reproductive Technology (ART) merupakan metode pengobatan infertilitas pada wanita dan cara agar cepat hamil. Karena dengan melakukan metode ini, pasangan suami-istri memiliki kesempatan untuk hamil lebih tinggi dibanding metode kesuburan lainnya. Umumnya, teknik ART yang sering digunakan adalah program bayi tabung atau dalam bahasa latinnya disebut In Vitro Fertilization (IVF)/fertilisasi in vitro.


Memang, teknik ART ini menawarkan pada pasangan suami-istri untuk bisa mendapatkan momongan dengan tingkat keberhasilan tertinggi dibanding metode lainnya. Namun, bagi seorang wanita/istri dengan usia di atas 35 tahun, keberhasilan untuk hamil dengan teknik ini menjadi lebih rendah.


 

Beberapa metode yang sering digunakan selama pelaksanaan IVF antara lain:


1. Injeksi cairan laki-laki intra sitoplasma


Pada saat ditemukan penyebab infertilitas ternyata ada pada kualitas semen maupun jumlah sel cairan laki-laki yang rendah, maka teknik ini cocok untuk digunakan sebagai alternatif agar wanita/istri bisa mengandung. Mekanisme kerja teknik ini dengan cara memilih satu sel cairan laki-laki yang sehat kemudian disuntikkan pada sel telur yang sudah matang secara langsung.


2. Penetasan yang dibantu


Ada sebagian pasangan suami-istri yang sering kali mengalami kegagalan ART secara berulang atau karena faktor usia sang istri/wanita di atas 35 tahun. Dengan adanya teknik ini, mereka mempunyai harapan untuk bisa mencoba menjadi orang tua. Pada teknik ini, dokter akan membuka selaput luar dari embrio selama proses implantasi di dalam rahim.


3. Donor


Pada saat terdapat masalah besar atau gangguan pada sel cairan laki-laki maupun sel telur, pasangan suami-istri masih bisa memiliki momongan dengan cara memilih orang yang dikenal maupun tidak agar dia mendonorkan sel cairan laki-lakinya maupun sel telurnya.


4. Pembawa kehamilan


Seorang wanita yang memiliki masalah kesehatan serius dan akan semakin parah jika sampai dia hamil atau wanita yang memang tidak cocok untuk mengandung karena alasan tertentu, maka dia masih bisa menjadi ibu dengan cara menempatkan embrio di dalam rahim si pembawa (orang lain) hingga persalinan. Dan tentu saja proses kehamilan ini atas nama wanita tersebut.